Cumlaude Di Malaysia, Pilih Pulang Membangun Surabaya

Heni Fitria dan ayahnya
Heni Fitria dan ayahnya

HENI Fitria (22), gadis kelahiran Surabaya, 24 Maret 1993, ini tak pernah menyangka bisa menyelesaikan jenjang pendidikan sarjana di luar Kota Surabaya, terlebih di luar negeri, yakni di Kedah, Malaysia. Selama empat tahun, Heni merasakan berbagai pengalaman yang menarik, mulai dari dia harus intensif belajar bahasa Inggris selama enam bulan, hingga pindah jurusan gara-gara kampusnya ditutup sementara.
Dengan ditemani ayahnya, Rawuh (64) yang berpofesi sebagai pengayuh becak, Heni menceritakan alasannya pulang, yakni untuk membangun Kota Pahlawan menjadi kota metropolitan yang terdepan dalam bidang ekonomi. Heni yang memilih ilmu konsentrasi Banking and Finance di Albukhary International University (AIU), akhirnya kembali ke Surabaya pada 22 November 2015 untuk mewujudkan mimpinya membangun Kota Pahlawan.
“Ini merupakan kehormatan bagi saya, bisa mencicipi pendidikan sarjana di luar negeri. Mimpi yang menjadi nyata bagi seseorang seperti saya. Meskipun saya lahir bukan dari keluarga yang mampu, saya ternyata bisa menyelesaikan pendidikan tepat waktu, dan meraih nilai Indeks Predikat Kumulatif (IPK) 3,8,” imbuh Heni.
Bersama 19 orang dari Indonesia, dan 3 orang dari Kota Surabaya. Heni juga menorehkan prestasi, yakni juara I tari Saman Aceh saat mengikuti kontes tari di universitasnya. Selain itu, teman-temannya dari Vietnam, Myanmar, hingga Afrika juga sering menanyakan bagaimana Kota Surabaya yang merupakan kampung halamannya.
Heni yang merupakan anak terakhir dari lima bersaudara ini sempat bingung ketika kampus tempatnya belajar, memilih untuk memindahkan seluruh teman sefakultasnya ke SEGi University karena kampusnya mengalami penutupan sementara. “Beberapa mata kuliah yang sudah ditempuh harus ditransfer ke universitas baru. Beberapa mata kuliah hangus, namun itu bukan masalah. Selain itu, saya juga harus pindah jurusan dari yang awalnya Banking and Finance menjadi manajemen keuangan,” tegas Heni.
Heni juga sempat bimbang, ketika mendapat tawaran dari beberapa perusahaan yang ada di Kedah, Malaysia. Tawaran ini muncul, bahkan sebelum Heny selesai diwisuda. “Saya sudah berjanji dengan Bu Risma (Walikota Surabaya sebelumnya), untuk kembali ke Surabaya setelah menyelesaikan studi, dan bersama-sama akan membangun Kota Surabaya.
Perempuan lulusan SMAN 14 Surabaya ini awalnya hanya mendaftar beasiswa Bidikmisi agar dapat mengambil jurusan Teknik di ITS, dan kemudian tim dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya datang meminta kelengkapan data untuk beasiswa, dan sekaligus menawarinya bersekolah di Malaysia. Ia hanya diberikan waktu dua hari untuk memikirkan matang-matang tawaran dari pemkot tersebut.
Heni mengaku, meskipun ayahnya hanya berprofesi sebagai pengayuh becak dan ibunya berjualan buah di depan rumah untuk menyambung hidup, pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk mengubah derajat hidup. Menurutnya, belajar sungguh-sungguh dan berdoa adalah cara terbaik bagi Heni hingga dirinya bisa seperti ini. “Saya ingin terus belajar. Harapan saya bisa bekerja di bidang yang saya kuasai, sembari melanjutkan kuliah ke jenjang pendidikan selanjutnya,” imbuh Heni. (Rilis) www.majalahfaktaonline.blogspot.com / www.majalahfaktanew.blogspot.com